Tak Ada Keadilan di Pasar Malam
Timbangan Mendengkur
Keadilan pernah duduk di kursi pengadilan
dengan mata terpejam seperti petani tua yang lelah.
Di meja kayu itu, ia menunggu mulut-mulut bersuara
menyebut namanya dengan cinta,
yang terdengar hanya dengkur para saksi.
Sang waktu sedang sibuk memotong kuku,
halaman sejarah menjadi banjir dengkur.
Di luar gedung, ketidakadilan berlari telanjang,
memanggul obor dan tertawa.
Ia yakin, kemenangan akan datang
pada mereka yang dibangunkan.
2025
Monumen Tengah Jalan
Monumen yang terbuat dari batu hitam
bertuliskan nama-nama yang dibungkam.
Setiap pejalan yang lewat, memalingkan muka
seolah pahatan itu sekadar hiasan musim.
Hujan menitikkan air mata di atas prasasti,
membaca nama-nama dengan nada lirih.
Sementara jalan raya terus memakan ban-ban mobil,
dan udara tak henti mengunyah deru mesin.
Keadilan menjadi patung:
megah tak bergerak,
terabaikan sampai lumut dan menyerah.

2025
Surat Terakhir Seekor Burung
Seekor burung menulis surat di langit,
ia menggores awan-awan dengan sayap:
Orang-orang di bawah melihat coretan awan.
Burung adalah pembawa angin,
dan angin adalah pembawa suara.
Bulunya yang terakhir jatuh di tanah,
kesunyian menutup amplopnya,
ketidakadilan mengirimkan perangko
pada seluruh dunia:
harga untuk bisu selalu lebih mahal
daripada harga untuk berteriak.
2025
Tak Ada Keadilan di Pasar Malam
Di pasar malam, keadilan dijual murah
di kios sebelah boneka dan permen kapas.
Lampu warna-warni menyilaukan mata pembeli
hingga mereka tak sadar telah membeli tirani
dengan kembalian senyum palsu.
Keadilan duduk di pojok, memeluk lutut,
mendengar musik dangdut dari pengeras suara
yang pecah nadanya.
Setiap nada patah adalah tulang rusuk
yang retak di tubuhnya,
namun tak seorang pun membawanya pulang.
2025
Kuburan Keadilan
Kuburan keadilan itu tak pernah sepi.
Rumput liar tumbuh seperti doa-doa yang gagal.
Setiap malam, bulan menaburkan cahaya
sebagai lilin bagi pusara.
Di kejauhan, suara tawa tirani
menyelimuti tanah ini,
seperti kafan robek.
Di bawah nisan, keadilan berteriak
mencoba untuk membuka kelopak mata,
namun begitu berat
bukan oleh batu-batu yang menimpa,
tetapi oleh ketidakpedulian
yang dilemparkan dunia.
2025
Penulis: Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, cerpen di berbagai media nasional.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.