Mensyukuri Nikmat Akal Merupakan Tanda Keimanan
Sudah menjadi sunatullah bahwa akal diberikan kepada manusia sebagai anugerah istimewa. Berbeda dari makhluk lainnya, manusia mampu menimbang, memahami, dan merenung.
اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِۛ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۛ قَدْ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكُمْ ذِكْرًاۙ
Artinya: “Allah telah menyediakan azab yang sangat pedih bagi mereka. Maka, bertakwalah kepada Allah, wahai ululalbab (orang-orang yang berakal sehat, berhati bersih, dan cerdas,) (yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.” Q.S. At-Talaq (65) : 10
Dalam ayat di atas, Allah secara langsung mengaitkan akal, takwa, dan iman. Orang yang berakal sejatinya akan terpanggil untuk bertakwa, dan itu adalah tanda dari orang yang beriman. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang lupa bersyukur atas akal yang diberikan. Padahal akal bukan sekadar alat berpikir, tapi juga kunci utama untuk memahami petunjuk-petunjuk Allah yang diturunkan melalui wahyu.
Dalam al-Quran, berkali-kali Allah menggunakan seruan seperti afala ta’qilun (tidakkah kalian berpikir?) dan la’allakum tatafakkarun (agar kalian berpikir), sebagai ajakan agar manusia menggunakan akalnya. Dengan menggunakan akal, seseorang bisa memahami apa yang benar dan salah. Ia bisa membedakan mana jalan yang diridhai Allah dan mana yang menjerumuskan. Ia tak hanya menerima tradisi dan informasi secara mentah, tapi menimbangnya dengan neraca petunjuk Ilahi.

Tanpa menggunakan akal untuk merenungi ayat-ayat dan peringatan Allah, terutama dalam Al-Quran, sangat sulit bagi seseorang untuk benar-benar mengerti kebenaran. Ia bisa saja terjebak pada rutinitas ibadah tanpa pemahaman, atau bahkan tergelincir dalam keyakinan yang salah karena mengikuti hawa nafsu atau bisikan manusia lainnya. Al-Quran menyebut orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk memahami wahyu sebagai orang yang ‘tuli, bisu, dan buta’, meskipun secara fisik mereka bisa mendengar dan melihat.
وَمَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا كَمَثَلِ الَّذِيْ يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ اِلَّا دُعَاۤءً وَّنِدَاۤءً ۗ صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ
Artinya: “Perumpamaan (penyeru) orang-orang yang kufur adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (gembalaannya) yang tidak mendengar (memahami) selain panggilan dan teriakan (saja). (Mereka) tuli, bisu, dan buta sehingga mereka tidak mengerti.” QS. Al-Baqarah: 171.
Jika seseorang sudah enggan berpikir, maka perlahan-lahan keimanannya pun bisa melemah. Seperti seorang pelajar yang menghadapi ujian semakin tinggi tingkat soal ujian, tapi tidak ada usaha untuk belajar atau menambah ilmu, maka nilai ujiannya pasti akan menurun. Demikian pula dengan iman. Ujian hidup akan terus bertambah seiring usia dan tanggung jawab. Kalau akal tidak digunakan untuk memahami petunjuk Allah dalam menghadapi ujian itu, bisa-bisa seseorang kalah sebelum berjuang.
Apakah kita rela membiarkan keimanan kita menurun perlahan-lahan?
Apakah kita cukup puas berada di level iman yang sama sepanjang hidup?
Atau justru kita ingin terus menaikkan level iman kita, seiring bertambahnya umur dan bertambahnya nikmat Allah yang kita rasakan?
Semuanya kembali kepada kita. Allah sudah membekali kita dengan akal. Sudah menurunkan al-Quran. Sudah mengirimkan Nabi sebagai teladan. Dan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka sendiri yang berusaha mengubah apa yang ada dalam diri mereka.
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” QS. Ar-Ra’d: 11.
Gunakanlah akal untuk bersyukur. Bersyukur bukan hanya dengan ucapan, tapi dengan cara memakainya untuk mengenal kebenaran, menjauhi kebatilan, dan memperbaiki diri. Karena sesungguhnya, akal yang disyukuri akan membawa kita pada jalan takwa. Dan itu adalah tanda dari iman yang hidup. Wallahu a’lam.
Penulis: Agha Joseph
Editor: Muh. Sutan
apasportacademy
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru