Mahbub Djunaidi Intelektual NU yang Merawat Moderasi Islam melalui Jurnalistik
4 mins read

Mahbub Djunaidi Intelektual NU yang Merawat Moderasi Islam melalui Jurnalistik



H. Mahbub Djunaidi (sumber: kompasiana)

Dalam sejarah pemikiran Islam dan dunia pers Indonesia, terdapat tokoh-tokoh yang perannya mungkin tidak selalu menonjol di ruang publik, tetapi memiliki pengaruh penting melalui gagasan dan tulisan. Mereka berjalan secara konsisten melalui kata-kata, tulisan, dan sikap, bukan melalui jabatan dan sorotan. H. Mahbub Djunaidi adalah salah satu tokoh yang menempuh jalan tersebut.

H. Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933 di Jakarta. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan tradisi Islam. Sejak muda,Mahbub menunjukkan minat besar pada dunia literasi. Kebiasaan ini membentuk watak intelektualnya dan membawanya masuk ke dunia jurnalistik serta organisasi keagamaan.

Baca Juga: Biografi KH. Asy’ari (Keras) dan Sejarah Berdirinya Pondok Keras

Kiprah anak pertama dari 13 bersaudara ini tidak dapat dipisahkan dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia merupakan bagian dari generasi intelektual NU yang berusaha memperkuat peran organisasi ini tidak hanya sebagai gerakan keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan kultural. Dalam NU, Mahbub dikenal sebagai pemikir yang rasional dan kritis. Ia mendorong cara berpikir terbuka, dialogis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi Islam yang moderat.

Salah satu pemikiran Mahbub Djunaidi yang fundamental terletak pada pandangannya tentang hubungan Islam dan kebangsaan. Ia hidup pada masa ketika perdebatan mengenai hubungan agama dan negara masih berlangsung sangat kuat. Pertanyaan besar yang sering muncul adalah apakah Islam harus dijadikan dasar negara ataukah cukup berperan sebagai etika moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, Mahbub menegaskan sikap yang jelas bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Mengenal Prof. M. Quraish Shihab, Pakar Tafsir yang Masyhur dari Indonesia (Bagian 2-Selesai)

Pandangan tersebut sejalan dengan arus pemikiran para tokoh NU seperti K.H. Wahid Hasyim hingga K.H. Abdul Wahab Chasbullah, yang menekankan pentingnya menerima Pancasila sebagai konsensus kebangsaan. Bagi Mahbub, penerimaan terhadap Pancasila tidak berarti mengurangi nilai-nilai Islam, melainkan justru menjadi jalan bagi umat Islam untuk berkontribusi secara nyata dalam kehidupan berbangsa yang majemuk. Sikap ini memperlihatkan kedewasaan berpikir dan komitmen kebangsaan yang kuat, sekaligus mencerminkan karakter Islam Nusantara yang inklusif.

Dalam struktur NU, peran Mahbub Djunaidi lebih menonjol melalui jalur pemikiran dan pers dibandingkan jalur struktural organisasi. Ia tidak dikenal sebagai pemburu jabatan, melainkan sebagai penulis dan penyumbang gagasan. Melalui tulisan dan diskusi, ia menyampaikan pandangan-pandangan NU tentang keislaman, kebangsaan, dan demokrasi dengan bahasa yang jernih dan mudah dipahami.

Di bidang jurnalistik, Mahbub Djunaidi dikenal sebagai jurnalis dan esais yang memiliki gaya khas. Ia pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi harian ‘Duta Masyarakat’, surat kabar yang menjadi salah satu media utama NU. Di bawah kepemimpinannya, ‘Duta Masyarakat’ tidak hanya berfungsi sebagai corong organisasi, tetapi juga sebagai ruang pemikiran dan kritik sosial. Mahbub menempatkan pers sebagai sarana pendidikan publik dan kontrol moral terhadap kekuasaan.

Baca Juga: KH. Husein Muhammad Sosok Ulama dengan Segudang Karya Tulisnya

Selain di media NU, Mahbub Djunaidi juga menulis di berbagai media nasional. Tulisan-tulisannya membahas isu agama, politik, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Ia dikenal mampu menyampaikan kritik secara tajam dengan tetap memperhatikan etika kepenulisan. Humor dan ironi sering hadir dalam tulisannya, membuat gagasan yang berat terasa lebih ringan dan komunikatif tanpa mengurangi kedalaman maknanya. Hal itu membuat pembaca jadi lebih mudah dalam menyelami maksud tulisannya.

Sebagai sastrawan, Mahbub Djunaidi lebih dikenal melalui esai-esai reflektif daripada karya fiksi. Meski demikian, tulisan-tulisannya menunjukkan kepekaan bahasa dan kekuatan argumentasi yang baik. Ia memadukan pemikiran keislaman, pengalaman sosial, dan kesadaran kebangsaan dalam satu kerangka berpikir yang utuh. Menulis, bagi Mahbub, bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Baca Juga: Ustadzah Mumpuni Handayayekti: Dai’ Perempuan yang Inklusif di Masyarakat Modern

Sikap independen menjadi ciri penting dalam diri Mahbub Djunaidi. Ia tidak segan mengkritik penguasa ketika melihat ketidakadilan, tetapi juga bersikap kritis terhadap kelompok oposisi maupun lingkungan internalnya sendiri. Ia menolak fanatisme sempit dan lebih memilih jalan moderasi yang berpijak pada akal sehat, nilai kemanusiaan, dan kepentingan bangsa.

H. Mahbub Djunaidi wafat pada tanggal 1 Oktober 1995 di keddiamannya, Jalan Taman Karawitan, Bandung. Namun pemikiran dan keteladanannya tetap relevan hingga kini. Ia dikenang sebagai tokoh NU yang konsisten memperjuangkan kebebasan berpikir, integritas jurnalistik, serta hubungan yang harmonis antara Islam dan kebangsaan. Melalui tulisan dan sikap hidupnya, Mahbub Djunaidi meninggalkan warisan penting bagi perkembangan pemikiran Islam moderat dan kehidupan intelektual Indonesia.



Penulis: Helfi Livia
Editor: Rara Zarary

 




News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *