Menelusuri Spiritualitas KH. Hasyim Asy’ari di Balik Kedalaman Ilmu
7 mins read

Menelusuri Spiritualitas KH. Hasyim Asy’ari di Balik Kedalaman Ilmu


Tahun 1933, Pesantren Tebuireng. Setelah shalat maghrib, dua orang tua berebut untuk memasangkan sandal ke kaki satu sama lain. Keduanya saling berteriak pelan: “Saya murid tuan. Saya murid tuan.”

Salah satunya adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, ulama paling berpengaruh di Jawa pada zamannya, pendiri Tebuireng, salah satu bapak Nahdlatul Ulama. Yang satunya lagi adalah Kiai Khosim, bekas guru Hasyim muda dari Pesantren Siwalan Panji, yang datang ke Tebuireng bukan untuk mengajar, tapi untuk berguru kepada bekas muridnya.

Kiai Hasyim menolak peran itu. Ia menjawab: “Tidakkah mungkin barangkali tuan salah raba ‘berguru’ kepada saya, seorang murid tuan sendiri, murid tuan dahulu, dan murid tuan juga sekarang, ya bahkan tetap menjadi murid tuan selama-lamanya.”

Kiai Khosim, menurut catatan sejarah, melelehkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena terharu mempunyai bekas murid yang masih tetap bersifat rendah hati meskipun telah menjadi nama besar yang harum.

Tujuh Tahun di Tanah Orang

Untuk memahami dari mana kedalaman ilmu Kiai Hasyim berasal, kita perlu mengikuti perjalanannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau mulai belajar di Pesantren Nggedang sejak kecil, lalu pindah ke Pesantren Keras di bawah asuhan ayahnya. Di usia 13 tahun, beliau sudah bisa mengajar kitab kepada santri lain. Di usia 15 tahun, beliau merasa perlu lebih. Dengan berjalan kaki dari satu pesantren ke pesantren lain selama lima tahun; Wonokoyo, Probolinggo, Palangitan, hingga ke Madura, beliau mencari guru yang tepat untuk setiap cabang ilmu.

Akhirnya beliau menemukan Kiai Yakub di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo. Tidak hanya belajar, beliau juga dinikahkan dengan putri sang kiai, dan tak lama kemudian dibawa ke Mekah.

Di Mekah, dalam rentang tujuh tahun (1892–1899), Kiai Hasyim kehilangan istri dan anaknya yang baru lahir dalam waktu berdekatan. Kesedihan itu, menurut sejarah, hampir tak tertahankan. Cara beliau menghadapinya bukan dengan pulang. Beliau mengelilingi Ka’bah, atau tenggelam dalam kitab-kitab. Kiai Hasyim juga pernah duduk sendirian dari pagi hingga petang di Jabal Nur, di Gua Hira, tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, untuk amembaca dan berdoa. Beliau pulang ke Indonesia tujuh tahun kemudian membawa sesuatu yang tidak bisa ditimbang yaitu kedalaman ilmu.

Ilmu yang Mengubah Orang, Bukan Hanya Memenuhi Kepala

Di pesantren tradisional, ada prinsip yang kini mulai terlupakan: al-‘ilmu fish-shuduur, la fish-suthuur, ilmu ada di dada, bukan di buku. Bukan berarti buku tidak penting. Tapi ilmu yang sejati adalah ilmu yang masuk ke dalam diri seseorang dan mengubah cara ia berpikir, bersikap, dan hidup.

KH. Hasyim Asy’ari adalah personifikasi dari prinsip ini. Beliau mengembangkan spesialisasi dalam ilmu hadits dan setiap bulan Ramadan menggelar pengajian khusus kitab Sahih Bukhari dan Shahih Muslim, harus khatam dalam satu bulan, dari lima hari sebelum Ramadan hingga lima hari sebelum Syawal. Pada masa pengajian itu, Tebuireng bisa dipenuhi hingga tiga ribu tamu dari seluruh Nusantara.

Tapi yang lebih mengesankan dari kapasitas intelektualnya adalah cara beliau menyampaikannya. Suaranya lemah lembut. Beliau adalah seorang yang ramah dan sabar menghadapi pertanyaan. Contoh-contoh yang beliau berikan saat menafsirkan pelajaran, menurut catatan sejarah, selalu berisi ajaran-ajaran yang berfaedah bagi kehidupan manusia. Beliau tidak mau mempermalukan murid. Lebih banyak membela daripada mencela. Hal itu merupakan spiritualitas yang memanifestasikan diri dalam cara berbicara kepada orang lain.

Toleransi sebagai Buah Kedalaman, Bukan Kelemahan

Salah satu kisah paling jujur tentang Kiai Hasyim adalah kisahnya dengan menantunya, Kiai Haji Maksum Ali. Mereka berbeda pendapat dalam dua hal: tentang hukum foto (Kiai Hasyim menghukuminya haram sebagai gambar; menantunya membolehkan karena itu bayangan, bukan gambar) dan tentang penetapan awal Ramadan (Kiai Hasyim pakai ru’yat; menantunya pakai hisab, bahkan pernah mulai puasa lebih dulu dari mertuanya). Perbedaan antara mertua-menantu itu tidak pernah selesai. Tapi hubungan mereka tetap akrab.

Suatu hari ada orang yang mempersoalkan sikap Kiai Maksum yang “tidak mau tunduk” pada mertuanya. Kiai Hasyim menegurnya: “Setiap orang mempunyai pendirian sendiri-sendiri. Saya harap dalam hal ini saudara janganlah ikut campur tangan.”

Dalam budaya pesantren yang sangat menekankan ketaatan kepada kiai, kalimat itu bukan hal kecil. Ia membutuhkan keyakinan yang dalam, keyakinan bahwa kebenaran bukan milik siapapun yang paling berpengaruh, dan bahwa menghormati orang lain justru lebih penting daripada mempertahankan otoritas diri sendiri.

Spiritualitas yang Tak Butuh Sorotan

Di akhir hidupnya, Kiai Hasyim memiliki tidak lebih dari tiga helai sarung. Ketika pada 1937 seorang pejabat Belanda datang membawakan bintang jasa dari pemerintah kolonial, dari perak dan emas, beliau menolaknya. Alasannya, ia tidak bisa mencampur-adukkan keikhlasannya (“lillahi ta’ala”) dengan maksud-maksud keduniawian.

Malam harinya, setelah shalat maghrib, Kiai Hasyim mengumpulkan para santrinya dan bercerita tentang Nabi Muhammad yang ditawari kedudukan tinggi, harta berlimpah, dan perempuan tercantik oleh pemuka Quraisy, tapi menolak semuanya. Nabi berkata: “Demi Allah, meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kanan serta bulan di tangan kiriku dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tidak mau.”

Kisah itu tidak hanya indah. Kisah itu adalah cermin yang Kiai Hasyim pegang ke wajah para santrinya, dan juga ke wajahnya sendiri.

Hari ini, kita hidup di era di mana spiritualitas bisa mudah dipamerkan: ceramah viral, kutipan bijak yang ribuan kali dibagikan, foto di tempat-tempat suci. Tidak ada yang salah dengan semua itu, selama kita jujur menanyakan: apakah semua itu membentuk diri kita, atau hanya memoles tampilan kita?

Kiai Hasyim mengajarkan bahwa ukuran kedalaman bukan pada apa yang ditampilkan. Ukurannya adalah pada apa yang terjadi ketika tidak ada yang melihat, ketika kita masih bersedia berkata kepada orang yang pernah mengajari kita, di puncak kejayaan kita sekalipun: “Saya tetap murid tuan. Seumur hidup.”

Baca Juga: Hadis Arba’in KH. Hasyim Asy’ari: Menangisi Agama yang Kehilangan Ahlinya (Bagian I)


Sumber bacaan:

Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdiannya (Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985).


Penulis: Athi Suqya Rohmah

Editor: Sutan


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *