Ketua PCNU Jombang Apresiasi Semangat Literasi Kepenulisan di Tebuireng
Tebuireng.online– Suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai aula Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Sabtu (25/10/2025). Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Jombang menggelar Workshop Kepenulisan yang diikuti puluhan peserta dari kalangan santri, mahasiswa, dan pegiat literasi.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, KH. Fahmi Amrullah Hadzik, yang juga merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Dalam sambutannya, Gus Fahmi menyampaikan apresiasi tinggi kepada panitia dan peserta atas terselenggaranya kegiatan yang dinilainya penuh kedisiplinan dan ketepatan waktu.
Baca Juga: LTN NU Jombang Gelar Workshop Kepenulisan di Ma’had Aly, Dorong Santri Berdakwah Bil Qalam
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena berjalan tepat waktu, tertib, dan teratur. Baru kali ini saya menghadiri acara NU yang benar-benar disiplin. Ini menunjukkan kesungguhan panitia dan semangat peserta. InsyaAllah, jika dilakukan dengan niat baik dan teratur, Allah akan memberi keberkahan. Fatawakkal ‘ala Allah—serahkan hasilnya kepada Allah,” ujar KH. Fahmi, disambut tepuk tangan hangat hadirin.

Lebih lanjut, KH. Fahmi mengisahkan keteladanan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam dunia kepenulisan. Ia mencontohkan bagaimana pendiri Pesantren Tebuireng tersebut menulis berbagai kitab dengan ketelitian dan semangat dakwah yang tinggi. Salah satunya, kitab Tanbihât al-Wâjibât, ditulis sebagai bentuk kritik terhadap praktik peringatan Maulid Nabi pada zamannya.
“Mbah Hasyim menulis Tanbihât al-Wâjibât bukan untuk melarang Maulid Nabi, tetapi untuk meluruskan praktiknya, karena saat itu terjadi ikhtilath antara laki-laki dan perempuan. Dari situ kita belajar bahwa menulis bukan hanya menuangkan ide, tetapi juga menyampaikan kebenaran dan menjaga kemurnian ajaran Islam,” jelasnya.
Menurut KH. Fahmi, semangat menulis Mbah Hasyim harus menjadi inspirasi bagi santri dan kader muda NU. Menulis, katanya, bukan hanya soal karya, tetapi juga bentuk pengabdian dan perjuangan.
“Mbah Hasyim memberi contoh nyata bahwa menulis adalah bagian dari jihad ilmiah. Saya berharap LTN NU Jombang terus melahirkan penulis-penulis muda yang berkarakter, berakhlak, dan berwawasan Aswaja. Jadikan pena sebagai sarana dakwah yang menyejukkan,” pesannya.
Baca Juga: MAHA Tebuireng Lepas Angkatan 3 BCB, Ingatkan Amanah Zakat untuk Prestasi dan Karya Ilmiah
KH. Fahmi juga mendorong agar kegiatan literasi semacam ini tidak berhenti pada pelatihan semata, melainkan ditindaklanjuti dengan pembentukan komunitas penulis.
“Buat komunitas penulis, kumpulkan karya, dan sebarkan nilai-nilai kebaikan lewat tulisan. Tulisan yang baik bisa menjadi cahaya bagi orang lain,” tambahnya.
Menutup sambutannya, KH. Fahmi mengingatkan pentingnya niat yang tulus dan sikap tawakal dalam berkarya.
“Menulis bukan untuk mencari popularitas, tapi untuk berkhidmah kepada agama, bangsa, dan umat. Kita berusaha sebaik mungkin, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah. Dengan niat yang lurus dan usaha sungguh-sungguh, insyaAllah tulisan kita membawa manfaat dan menjadi amal jariyah,” tutupnya.
Penulis: Fatih Maulana
Editor: Rara Zarary
apasportacademy
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru