Mukenah Putih untuk Hari Raya
Menjelang Nuzulul Qur’an, pesantren putri itu mulai terasa berbeda. Para santri sudah mulai bergosip dan sibuk membicarakan tanggal perpulangan, pengumpulan kitab, bahkan roan kubro yang belum terpampang infonya di mana-mana. Di kamar, di serambi masjid, bahkan saat antre jedding, yang dibahas selalu sama.
“Kamu pulang kapan?”
“Besok dijemput bapak dan ibu.”
“Aku lusa naik pesawat, wuuussssssssh,” sambil memperagakan gaya duduk di dalamnya.
Naya hanya mendengarkan dari tempat tidurnya sambil memperhatikan teman-temannya. Ia pun ikut tersenyum, tapi tidak banyak bicara. Tangannya hanya sibuk merapikan kitab-kitab di dalam tas kecilnya.

Sebab tahun ini ia tidak pulang lagi.
Ayahnya sudah lama meninggal. Ibunya tinggal di desa kecil yang cukup jauh dari pesantren. Ongkos perjalanan pulang pun tidak murah, dan ibunya hanya bekerja sebagai penjahit rumahan yang tidak banyak orang menitipkan bahan.
Beberapa hari yang lalu, ibunya menelepon.
“Nak, Lebaran tahun ini kamu di pesantren dulu, ya,” kata ibunya dengan suara pelan.
Naya terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Iya, Bu. Tidak apa-apa.”
“Ibu belum bisa kirim uang untuk ongkos pulang.”
Naya tersenyum meskipun ibunya tidak bisa melihat.
“Tidak apa-apa, Bu. Naya juga ingin belajar lagi di pondok sambil terus murojaah hafalan biar makin lancar.”
Jujur, mengatakan hal itu memang ringan, meskipun di dalam hatinya ada perasaan perih yang sulit dijelaskan.
Ia rindu rumah.
Rindu dapur kecil nan sederhana tempat ibunya biasa memasak. Rindu suara ibunya yang selalu memanggil saat sahur. Dan rindu suasana pagi Lebaran di kampung yang selalu hangat, serta tak lupa selalu menyambangi makam bapak di sebelah desa.
Hari-hari yang dinanti santri pun tiba. Satu per satu rombongan perpulangan sudah keluar dari pondok. Sekitar jam dua siang, barulah pemanggilan santri yang dijemput keluarga mereka.
Kamar yang biasanya penuh perlahan menjadi lebih lengang tanpa suara dan keramaian yang biasa terjadi.
Di atas balkon kamar, Naya berdiri di dekat jendela untuk melihat pintu gerbang pesantren. Dari sana ia bisa melihat beberapa santri yang memeluk ibu dan ayahnya sebelum naik kendaraan untuk pulang.
Naya memandangi pemandangan itu sangat lama. Ada perasaan hangat, tapi juga perasaan perih. Matanya memanas, cairan bening di ujung matanya keluar tanpa izin.
Jujur, ini menyakitkan. Namun ia tahu keadaan tidak selalu bisa mengikuti keinginan.
Malam takbiran pun akhirnya datang.
Pesantren tidak seramai biasanya. Banyak santri yang sudah pulang sejak pagi. Hanya tinggal beberapa santri yang masih tinggal bersama Naya di sini.
Suara takbir bergema dari masjid pesantren. Naya hanya terdiam sembari memandangi halaman yang sepi dan gelap.
Setelah itu Naya pun pindah ke kamar. Saat ia sedang duduk di balkon kamar, ia mengganti air ikan-ikan peliharaannya sendiri, bahkan ikan titipan orang lain yang ia rawat juga. Saat sedang memindahkan ikan milik temannya bernama Dodot, nama Naya dipanggil di kantor bendahara, yakni kamar pengurus pusat Pondok Pesantren Al Insan.
Sesampainya di kamar pengurus, Naya langsung bertanya kepada mbak-mbak tersebut.
“Ada paket buat kamu.”
Naya pun heran. Tidak biasanya ada kiriman untuknya.
Mbak Mai Salisa, selaku ketua pondok, menyerahkan sebuah kotak kardus kecil yang dibungkus rapi dengan plastik bening. Di bagian atasnya tertulis namanya dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Iya. Ini adalah tulisan ibunya.
Tangan Naya mendadak terasa gemetar.
Ia membawa kotak itu ke kamar yang kini sudah kosong. Dengan hati-hati ia membuka tali plastiknya.
Di dalamnya ada beberapa barang sederhana. Sebungkus kecil kue kering kesukaan Naya sejak kecil. Sebuah mukenah putih yang masih terlihat rapi. Naya memegang mukenah itu dengan perlahan. Kainnya lembut dan bersih, dengan bordir kecil di bagian ujungnya. Dan di bagian paling bawah ada amplop kecil.
Ia membuka surat di dalamnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Nak Naya,
Maafkan ibu belum bisa membuatmu pulang Lebaran tahun ini.
Ibu hanya bisa mengirim sedikit kue kesukaanmu dan mukenah jahitan ibu sendiri.
Naya berhenti sejenak membacanya. Dadanya mulai terasa sesak, matanya memanas tiba-tiba.
Ia pun melanjutkan membaca tulisan ibunya.
Mukenah ini ibu jahit sendiri sembari menghilangkan kesedihan ibu karena kamu enggak bisa pulang. Satu untuk Naya, dan satunya lagi untuk ibu.
Nanti waktu salat Idulfitri, kita pakai sama-sama ya, Nak. Bedanya kamu di sana memakainya di pondok, sedangkan ibu memakainya di rumah.
Perih yang dirasa sudah tidak terbendung lagi. Mata Naya pun banjir oleh air mata yang mengucur deras tanpa permisi.
Tulisan itu masih berlanjut.
Ibu ingin walaupun kita tidak salat di tempat yang sama, kita tetap seperti sedang berdiri berdampingan, ya Nak.
Tangisan Naya makin pecah sejadi-jadinya dan berjatuhan di atas kertas surat itu.
Ia membayangkan ibunya yang mungkin menjahit mukenah itu dengan perasaan sedih dan tangisan. Membayangkan bagaimana lelah dan letihnya ibu menjahit dan memoles bordir yang sama pada mukenah itu.
Naya memegang mukenah putih itu erat-erat.
Ia membayangkan saat hari raya itu tiba.
Tiba-tiba ia teringat wajah ibunya saat terakhir kali mengantarkannya ke pesantren. Wajah yang selalu berusaha tersenyum meskipun terlihat lelah.
Di luar kamar, suara takbir sudah menggema di mana-mana.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Naya menunduk sembari memegang pemberian kecil dari ibu itu.
Malam itu ia memang tidak pulang ke rumah.
Namun, melalui paket sederhana itu, ia tahu satu hal.
Bahwa di rumah kecil yang jauh dari pesantren, ada seorang ibu yang selalu rindu dan mendoakan anaknya tanpa henti.
Dan terkadang, rindu yang paling dalam tidak datang dari jarak, melainkan dari kasih sayang yang tidak pernah berhenti, meskipun dipisahkan oleh keadaan.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.