Apakah Hubungan Seksual tanpa Ejakulasi Membatalkan Puasa? – KonsultasiSyariah.com
8 mins read

Apakah Hubungan Seksual tanpa Ejakulasi Membatalkan Puasa? – KonsultasiSyariah.com

Pertanyaan:

Saya seorang wanita yang baru saja menikah. Saya mencari di situs IslamQA  dan mendapati bahwa penetrasi tanpa keluarnya mani tidak membatalkan puasa, namun wajib harus waspada dan hati-hati saat bermesraan di bulan Ramadan. 

Saya juga mendapati adanya perbedaan pendapat para ulama tentang keluarnya mani tanpa jimak di siang hari Ramadan. 

Saya dan suami saya bermesraan pada siang hari Ramadan, lalu terjadi penetrasi (memasukkan kemaluan) dengan tetap menjaga agar suami saya tidak ejakulasi. Setelah selesai berhubungan, suami saya mengatakan bahwa ia ragu apakah ada sedikit sesuatu yang keluar sesaat setelah hubungan itu. Ia tidak tahu apakah itu mani atau madzi. Maka saya memintanya untuk menahan diri agar tidak keluar lagi, dan ia pun melakukannya.

Lalu bagaimana hukumnya? Apakah wajib qada dan kafarat? Perlu diketahui bahwa suami tidak mengetahui sama sekali tentang jenis kafarat ini, dan ia segera menahan dirinya sehingga tidak keluar apa pun, saya seketika mengingatkannya. Cairan yang keluar sangat sedikit, dan ia mengatakan tidak tahu apakah itu madzi atau mani karena jumlahnya yang sangat sedikit.

Ringkasan Jawaban:

Barang siapa melakukan jimak pada siang hari Bulan Ramadan dalam keadaan berpuasa dan tidak sedang safar, maka ia wajib melakukan kafarat berat, serta wajib bertobat, dan mengqada hari tersebut. Wanita juga sama hukumnya jika ia melakukannya dengan kerelaan. Tidak ada perbedaan hukum apakah keluar mani atau tidak, selama telah terjadi jimak, yaitu penetrasi (masuknya kemaluan), maka kafarat telah wajib. Ketidaktahuan terhadap hukum perbuatan bisa menjadi uzur bagi seorang Muslim, namun ketidaktahuan terhadap bentuk hukumannya tidak menjadi uzur.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Adapun berikutnya.

Apakah penetrasi tanpa keluar mani membatalkan puasa? 

Pernyataan penanya bahwa ia mendapati di situs ini bahwa penetrasi tanpa keluarnya mani tidak membatalkan puasa adalah pernyataan yang tidak benar. Di situs kami tidak ada keterangan seperti itu, bahkan yang ada adalah sebaliknya, karena penetrasi kemaluan adalah jimak, dan jimak membatalkan puasa serta mewajibkan kafarat berdasarkan ijmak (kesepakatan ulama). 

Disebutkan dalam jawaban atas pertanyaan nomor (148163) di situs kami, “Barang siapa melakukan jimak pada siang hari Ramadan dalam keadaan berpuasa dan tidak sedang safar, maka wajib baginya melakukan kafarat berat, yaitu memerdekakan seorang budak. Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu juga, maka memberi makan enam puluh orang miskin. Ia juga wajib bertobat dan mengqada hari tersebut. Wanita pun sama hukumnya jika ia melakukannya dengan kerelaan. Tidak ada perbedaan apakah ia keluar mani atau tidak, selama telah terjadi jimak, yaitu penetrasi, maka wajib kafarat.” Selesai kutipan.

Disebutkan dalam Al-Mausū‘ah Al-Fiqhiyyah (35/55): “Tidak ada perbedaan pendapat di antara para fukaha tentang wajibnya kafarat atas orang yang melakukan jimak pada kemaluan di siang hari Ramadan dengan sengaja tanpa uzur, baik ia keluar mani maupun tidak.” Selesai kutipan.

Barangkali penanya membaca keterangan bahwa mubāsyarah (bermesraan) atau mulāʿabah (‘bermain-main’) tanpa keluar mani tidak membatalkan puasa, lalu ia mengira bahwa yang dimaksud adalah jimak. Ini adalah anggapan yang keliru sebagaimana telah kami jelaskan. Yang dimaksud dengan mubāsyarah atau mulā‘abah adalah menikmati istri tanpa melakukan penetrasi ke kemaluan.

Apakah keluarnya mani tanpa jimak membatalkan puasa? 

Keluarnya mani meskipun tanpa jimak membatalkan puasa menurut pendapat yang sahih, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama, bahkan dinukil sebagai ijmak. Imam An-Nawawi Rahimahullāh berkata: “Apabila seseorang mencium atau bermesraan selain pada kemaluan dengan kemaluannya, atau menyentuh kulit seorang wanita dengan tangannya atau selainnya, lalu ia keluar mani, maka batal puasanya, dan jika tidak keluar mani maka tidak batal. Penulis Al-Ḥāwī dan selainnya menukil adanya ijmak atas batalnya puasa orang yang mencium atau bermesraan pada selain kemaluan lalu keluar mani.” Selesai kutipan dari Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab (6/322).

Ibnu Rusyd Rahimahullāh berkata bahwa mereka semua berpendapat bahwa sesungguhnya orang yang mencium lalu keluar mani, maka telah batal puasanya. Selesai kutipan dari Bidāyatu Al-Mujtahid (2/52). Ibnu Qudāmah Rahimahullāh juga berkata bahwa  apabila seseorang mencium lalu keluar mani, maka ia batal tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui. Selesai kutipan dari Al-Mughnī (3/127).

Bermesraan pada Siang Hari Bulan Ramadan: Ketentuan dan Peringatan Syariat

Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dan waspada saat bermesraan pada siang hari bulan Ramadan, maka barang siapa yang khawatir dirinya tidak mampu menahan nafsu, maka wajib baginya meninggalkannya demi menjaga agama dan dirinya. Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahullāh berkata “Aku tidak mengetahui seorang pun yang memberikan keringanan (kebolehan) orang yang berpuasa untuk  bercumbu kecuali dengan syarat aman dari akibat yang timbul darinya, dan bahwa siapa yang menyadari bahwa dengan ciuman itu akan menimbulkan sesuatu yang merusak puasanya, maka wajib baginya menjauhinya.” Selesai kutipan dari Al-Istidzkar (3/296).

Hukum Jimak pada Siang Hari Bulan Ramadan karena Tidak Mengetahui Keharamannya

Barang siapa melakukan jimak pada siang hari Bulan Ramadan karena tidak mengetahui bahwa hal itu haram, maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Mazhab Hanbali —dan ini juga pilihan Al-Lajnah Ad-Dā’imah lil-Iftā’— berpendapat bahwa ia tetap wajib mengqadha dan melakukan kafarat. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa orang yang tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram, maka ia mendapat uzur (dimaafkan) dan tidak ada kewajiban apa pun atasnya. Disebutkan dalam Hāsyiyah ar-Raudh (3/411): “Ibnu ‘Abdil Barr berkata bahwa yang benar dalam masalah makan dan jimak, apabila seseorang melakukannya tidak ada unsur kesengajaan, maka tidak membatalkan puasa. Demikian pula yang dikatakan  tidak hanya oleh satu ulama saja, bahwa jimak itu seperti makan dalam hal-hal yang telah disebutkan, yaitu dalam keadaan keraguan, paksaan, atau ketidaktahuan.” Selesai kutipan.

Perbedaan antara Tidak Mengetahui Hukum dan Tidak Mengetahui Hukuman Akibat Jimak saat Puasa

Namun perlu diperhatikan perbedaan antara orang yang tidak mengetahui hukumnya, inilah yang mendapat uzur (dimaafkan), meskipun dalam hal ini ada perbedaan pendapat sebagaimana telah disebutkan, dengan orang yang mengetahui hukumnya tetapi tidak mengetahui sanksinya. Barang siapa mengetahui bahwa jimak pada siang hari Ramadan itu haram, tetapi ia tidak mengetahui bahwa di dalamnya ada kafarat, maka ia tidak diberi uzur karena ketidaktahuannya tersebut, dan kafarat tetap wajib atasnya. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pernah ditanya: “Seorang laki-laki menggauli istrinya pada siang hari Bulan Ramadan dan tidak keluar mani, sementara ia tidak mengetahui hukum perbuatan tersebut dan juga tidak mengetahui sanksinya, namun ia tahu bahwa jimak yang disertai keluarnya mani itu haram. Maka bagaimana hukumnya?”

Beliau menjawab: “Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa siapa yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, atau melakukan larangan dalam ihram, atau melakukan hal yang merusak salat dalam keadaan tidak tahu, maka tidak ada konsekuensi apa pun baginya. Maka laki-laki yang menggauli istrinya pada siang hari Bulan Ramadan, apabila ia tidak mengetahui hukumnya dan mengira bahwa jimak yang diharamkan hanyalah yang disertai keluarnya mani, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya.

Adapun jika ia mengetahui bahwa jimak itu haram, tetapi tidak mengetahui bahwa di dalamnya ada kafarat, maka kafarat tetap wajib atasnya, karena ada perbedaan antara tidak mengetahui hukum dan tidak mengetahui hukuman. Tidak mengetahui hukuman tidak menjadi uzur bagi seseorang, sedangkan tidak mengetahui hukum dapat menjadi uzur baginya.” Selesai kutipan dari Al-Liqā’ asy-Syahri (1/7) menurut penomoran Maktabah Syamilah. Allah Yang lebih mengetahui.

Sumber:

Sumber artikel PDF

🔍 Memuaskan Istri Menurut Islam, Menghadapi Suami Keras Kepala, Shalat Ghaib Adalah, Gambar Surat Kursi, Ciri Ciri Kiamat Sugro

Visited 357 times, 174 visit(s) today

Post Views: 24

QRIS donasi Yufid

Berita Terkini

Berita Terbaru

Daftar Terbaru

News

Jasa Impor China

Berita Terbaru

Flash News

RuangJP

Pemilu

Berita Terkini

Prediksi Bola

Technology

Otomotif

Berita Terbaru

Teknologi

Berita terkini

Berita Pemilu

Berita Teknologi

Hiburan

master Slote

Berita Terkini

Pendidikan

Resep

Jasa Backlink

Slot gacor terpercaya

Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *