Ketika Adab Menjauh dari Ruang Kelas
9 mins read

Ketika Adab Menjauh dari Ruang Kelas



Sebuah ilustrasi yang terjadi di kelas (sumber: ai/ra)
Kita mulai bisa memahami mengapa relasi guru-murid hari ini begitu mudah retak. Bukan semata karena guru salah atau murid keliru, melainkan karena kerangka adab bersama tidak lagi menjadi kesadaran kolektif. Teguran guru mudah ditafsirkan sebagai kekerasan, sementara keberanian murid menyampaikan pendapat kadang berubah menjadi sikap tanpa batas.

Jagad pendidikan Indonesia kembali riuh. Bukan oleh prestasi membanggakan, bukan pula oleh terobosan pedagogis yang mencerahkan, melainkan oleh serangkaian peristiwa yang justru menampilkan wajah muram relasi guru dan murid. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi proses pendewasaan manusia, belakangan kerap berubah menjadi arena konflik, kecurigaan, bahkan kriminalisasi.

Baca Juga: Adab dalam Menuntut Ilmu, Harmoni Tradisi Pesantren dan Neurosains Modern

Kasus yang menimpa Christiana Budiyati (55), guru SDK Mater Dei Pamulang, Tangerang Selatan, menjadi salah satu contoh terbaru. Niat seorang guru menegur muridnya—sebuah tindakan yang dalam logika pendidikan adalah bagian dari tanggung jawab moral—justru berujung laporan pidana atas tuduhan kekerasan verbal. Walaupun pada akhirnya kepolisian menghentikan perkara tersebut, luka sosialnya terlanjur menganga. Publik kembali dihadapkan pada ironi: guru, figur yang seharusnya mendapat perlindungan saat mendidik, justru harus berhadapan dengan mekanisme hukum yang kerap kali tidak sensitif terhadap konteks pedagogis.

Sebelumnya, publik juga menyimak kisah Tri Wulansari, guru honorer di Muaro Jambi. Upaya mendisiplinkan siswa yang melanggar aturan sekolah berujung pada status tersangka. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru harus menghadapi proses hukum yang panjang dan melelahkan. Di tempat lain, di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, beredar luas video adu jotos antara guru dan murid. Peristiwa itu memantik keprihatinan sekaligus kebingungan publik. Persoalan menjadi kian kompleks ketika diketahui bahwa sang guru, Agus Saputra, memiliki permintaan unik kepada murid-muridnya: ia enggan dipanggil “Bapak” dan lebih memilih disapa “Prince”.

Detail terakhir ini tampak sepele, bahkan mungkin dianggap sekadar keanehan personal. Namun justru di situlah kita menemukan celah penting untuk merenung. Pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana relasi itu dibangun. Panggilan, sikap, dan bahasa adalah bagian dari simbol-simbol kewibawaan dan etika. Ketika simbol-simbol ini kabur, batas pun menjadi samar, dan konflik mudah menyusup.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Makna dan Urgensi Adab dalam Kehidupan Seorang Muslim

Tentu, tiga kisah tersebut hanyalah secuil dari bentangan panjang problem pendidikan nasional. Namun secuil ini cukup untuk mengajukan satu pertanyaan mendasar: mengapa dunia pendidikan kita terasa begitu riuh, rapuh, dan mudah meledak? Mengapa ruang kelas—yang seharusnya menjadi ruang dialog, pembelajaran, dan pembentukan karakter—justru kerap menjadi ruang konflik yang berujung pada saling lapor?

Padahal, jika kita jujur, bangsa ini tidak kekurangan pendidik dan pemikir pendidikan. Akademisi di perguruan tinggi tak lelah menawarkan konsep-konsep baru: pendidikan berbasis kompetensi, pembelajaran diferensiatif, pendekatan humanistik, hingga model-model pendidikan yang mengadaptasi standar Barat, nilai-nilai Islam, maupun kearifan lokal. Seminar digelar, buku diterbitkan, kurikulum direvisi silih berganti. Namun di tingkat praksis, kegaduhan tetap saja muncul. Seolah kita rajin membangun gedung megah, tetapi lupa memastikan fondasinya kokoh.

Sebagai orang biasa—bukan pakar kebijakan, bukan pula pengambil keputusan—penulis hanya ingin mengajak pembaca menengok kembali satu aspek yang kerap kita sebut, tetapi jarang kita dalami secara sungguh-sungguh: adab dalam pendidikan. Dalam konteks ini, penulis teringat pada sebuah karya klasik yang relevansinya justru terasa semakin kuat hari ini, yakni Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Kitab ini tidak berbicara tentang kurikulum, standar kompetensi, atau metode evaluasi modern. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: etika relasi antara ilmu, guru, dan murid. Di dalamnya, pendidikan dipahami bukan semata proses transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya—akal, jiwa, dan akhlaknya.

Baca Juga:  Ketika Adab Dikerdilkan Jadi Kepatuhan

Bab III kitab tersebut menegaskan sebuah prinsip yang sering kali kita abaikan dalam pendidikan modern: keberhasilan ilmu tidak terutama ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan oleh akhlak pelajar terhadap gurunya. Ulama menempatkan adab sebagai fondasi utama keberkahan ilmu. Tanpa adab, ilmu boleh jadi bertambah, tetapi tidak menumbuhkan kebijaksanaan; pengetahuan melimpah, tetapi miskin kebajikan.

Dalam bab ini, Kiai Hasyim Asy’ari merinci dua belas prinsip adab pelajar kepada guru. Prinsip-prinsip ini mencakup sikap batin, lisan, dan perbuatan. Pelajar dianjurkan memilih guru dengan sungguh-sungguh, melalui pertimbangan matang dan istikharah. Guru ideal adalah mereka yang ahli di bidangnya, berakhlak mulia, menjaga martabat, dan diakui keilmuannya. Ilmu dipandang sebagai bagian dari agama, sehingga sumber pengambilannya harus jelas dan terpercaya.

Pelajar juga dituntut bersungguh-sungguh dalam mencari guru yang benar-benar mendalami ilmu, memiliki tradisi diskusi ilmiah, dan keluasan pandangan. Ketaatan kepada guru dipandang sebagai keharusan, sebagaimana pasien mengikuti nasihat dokter. Kerendahan hati di hadapan guru bukan kehinaan, melainkan kemuliaan. Bahkan, pelajar dilarang memanggil guru dengan namanya secara langsung atau menggunakan panggilan yang tidak pantas, baik di hadapan guru maupun di belakangnya.

Lebih jauh, pelajar dituntut bersabar atas sikap guru, termasuk ketika guru marah atau bersikap keras. Pelajar dianjurkan menakwil sikap tersebut secara baik, bukan justru menjadikannya alasan untuk memutus hubungan keilmuan. Cara duduk di majelis, cara bertanya, bahkan cara bersin pun diatur agar mencerminkan penghormatan terhadap ilmu.

Baca Juga: Jalan Peradaban yang Dirajut NU

Di titik ini, kita mulai bisa memahami mengapa relasi guru-murid hari ini begitu mudah retak. Bukan semata karena guru salah atau murid keliru, melainkan karena kerangka adab bersama tidak lagi menjadi kesadaran kolektif. Teguran guru mudah ditafsirkan sebagai kekerasan, sementara keberanian murid menyampaikan pendapat kadang berubah menjadi sikap tanpa batas.

Namun, kitab ini tidak berhenti pada tuntutan kepada murid. Justru bab-bab berikutnya memberi penekanan besar pada akhlak dan tanggung jawab guru. Bab VI, misalnya, menguraikan secara rinci adab seorang ustadz dalam mengajar. Mengajar dipahami sebagai ibadah, bukan sekadar pekerjaan profesional. Seorang guru dianjurkan mempersiapkan diri secara lahir dan batin: bersuci, berpakaian rapi, menjaga wibawa, dan meluruskan niat semata-mata untuk mencari rida Allah.

Guru dituntut menjaga sikap tubuh, emosi, dan tutur kata. Ia dianjurkan bersikap lemah lembut, ramah, dan adil kepada semua murid tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial. Guru tidak dianjurkan mengajar dalam kondisi marah, lapar, atau gelisah, karena kondisi batin tersebut dapat memengaruhi kualitas pengajaran dan relasi dengan murid.

Dalam majelis ilmu, guru hendaknya menghindari senda gurau berlebihan yang meruntuhkan kewibawaan. Ia dituntut menyampaikan pelajaran secara sistematis, jelas, dan sesuai kemampuan murid. Jika ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, jawaban paling mulia adalah, “Saya tidak tahu.” Kejujuran intelektual justru menjadi tanda kedalaman ilmu, bukan kelemahan.

Bab VII melengkapi gambaran ini dengan menguraikan empat belas prinsip etika guru dalam berinteraksi dengan murid. Tujuan utama mengajar adalah mencari rida Allah, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Guru dianjurkan mencintai murid seperti mencintai dirinya sendiri, menegur dengan kasih sayang, dan membimbing dengan kesabaran. Kesalahan murid dibenahi secara bertahap—dari isyarat halus hingga peringatan tegas—dengan tujuan perbaikan, bukan pelampiasan emosi.

Baca Juga: NU Didirikan untuk Merespons Guncangan Peradaban Islam Global

Guru juga dituntut adil, tidak pilih kasih, tetapi tetap memberi apresiasi yang mendidik. Ia dianjurkan mengenal murid secara personal, memperhatikan murid yang sakit atau lama tidak hadir, serta mendoakan murid-muridnya. Pendidikan dalam perspektif ini adalah relasi jangka panjang yang melampaui ruang kelas dan jam pelajaran.

Jika kita bandingkan dengan realitas hari ini, terlihat jelas jurangnya. Guru sering kali dibebani tuntutan administratif yang menumpuk, sementara murid hidup dalam ekosistem digital yang serba cepat dan permisif. Orang tua, sekolah, dan negara sering kali berjalan dengan logika masing-masing, tanpa kerangka adab yang sama. Dalam kondisi seperti ini, konflik nyaris tak terelakkan.

Penulis tidak hendak menyederhanakan masalah atau menunjuk hidung siapa pun. Dunia pendidikan terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan satu kambing hitam. Namun barangkali, kegaduhan demi kegaduhan ini menandakan satu hal: kita lupa pada dawuh Mbah Syaikh Hasyim Asy’ari tentang tiga dimensi adab—adab murid, adab guru, dan adab ilmu. Atau, lebih tepatnya, kita sering menuntut adab dari pihak lain, tetapi lupa menata adab pada diri sendiri.

Baca Juga: Fatimah al-Fihri Perempuan yang Mengubah Arah Peradaban

Mungkin sudah saatnya kitab-kitab adab tidak hanya menjadi bacaan simbolik di pesantren atau kutipan seremonial dalam pidato. Barangkali perlu ada kajian serius, seminar lintas pemangku kepentingan pendidikan, atau pelatihan etik pedagogis yang menjadikan adab sebagai fondasi bersama. Bukan untuk kembali ke masa lalu secara romantis, melainkan untuk menemukan kembali nilai-nilai dasar yang membuat pendidikan tetap manusiawi.

Namun lagi-lagi, penulis sadar akan keterbatasannya. Penulis bukan siapa-siapa. Hanya seorang yang percaya bahwa sebelum kita sibuk membenahi kurikulum, regulasi, dan teknologi pendidikan, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan dengan jujur: apakah adab masih kita anggap penting di ruang kelas? Sebab tanpa adab, ilmu mudah berubah menjadi sumber konflik, guru kehilangan wibawa, murid kehilangan arah, dan sekolah perlahan kehilangan maknanya sebagai tempat memanusiakan manusia.



Penulis: M. Afin Masrija
Editor: Rara Zarary




News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *